Yakan

Hehehe, bersyukurlah karena akan ada orang - orang lebih tak beruntung dari pada kita πŸ˜„
tak aku tuliskan hari ini,karena aksaraku lagi menaik membaik perlahan.

Seakan cerita - cerita sebelum ini tak ada apa - apanya 😊😊

See you next Story.
Selasa, 23 Juli 2019

Tentang Pekerjaan di Era Indutri 4.0 #MotivasiPekerjaan

(Play dulu biar syahdu)
Hahh, gue masih merayakan kehilangan nih, dari cerita postingan gue "#sadStory, Merayakan Kehilangan", gue gak mau berbagi cerita sedih yang selalu bikin orang lain takut dan berkecil hati, nah kali ini sembari aku merayakan kehilangan ada sedikit motivasi buat kalian dalam hal pekerjaan.

Indutri 4.0 yah industri yang semuanya serba terhubung internet, perkenalkan dulu, ane adalah seorang Guru di sebuah kota Kecil di Nganjuk, yah job ane guru. Semua tahulah pekerjaan guru fleksibel banget, gue bisa cari pekerjaan yang di kontrol jarak jauh. Oke dasar gue sih emang ke teknologi, tapi lebih kena analisis. Pertama gue punya kemampuan analisis Algoritma.


Yah analisis Algoritma, emang sih dulu pas SMA gue udah kenal SEO buat anak seumuran gue waktu itu tahun 2011 masih jarang banget, gue sendiri masih belum sadar kalau SEO ada manfaatnya untuk bisnis, dulu gue cuma Up2 artikel berita supaya banyak yang baca, maklum blog ane gue kasih iklan2, dapat sih recehan tapi waktu itu nominal seratus dua ratus ribu udah banyak banget, gue aja cuma 3500 perak uang jajan perhari. Gue tabung sih kadang buat jajan juga pokoknya gue pas itu udah punya prinsip gak nyusahin orang Tua.


Sekarang gue lebih fokus ke SMM (Social Media Marketing), hah lumayan loh gue jualan jasa desain sehari bisa mengahsilkan, lumayan koq kalau mau target 1 bulannya ngelebihin gaji Pokok PNS bisa koq (bukanya pamer cuma mau kasih motivasi aja), gue udah buktiini beberapa bulan kemaren. Yang gue pakai Instagram sih, karena IG masih perawan gue bilang perawan karena Ads. (iklan) gak sebanyak di Facebook dan di Youtube, kalau di yutube sih belum terjun karena kendala waktu dan bikin konten, gue cuma tanam akun - akun yang nanti mungkin berguna suatu saat di youtube.

Oke ini Instagram, next lagi ini ada pekerjaan di perusahaan, kalau loe mikir kerja diperusahan itu harus dikantor berdasi, rapi dan selalu di kota - kota besar, stopppppp, 😎😎 hilangkan mindset tersebut,karena sekarang di zaman industri 4.0 semua tak terbatas ruang dan waktu, ane sendiri kerja di PT. Razen teknologi Indonesia (http://razen.co.id) PT. ini dulu namanya Infosis alamtnya Jl. Pangeran Wirosobo Sorosutan Umbulharjo Kota Yogyakarta Daerah Istimewa Yogyakarta 55162 tapi gua sendiri gak pernah di kantor.

perusahaan ini berganti nama karena sempat proyek perusahaan di sebuah Kabupaten tak dibayarkan karena ulah oknum dengan nilai kontrak 2.1 Milyar yang menjadikan perusahaan langsung kolep jatuh #iamsadπŸ˜­πŸ˜”πŸ˜”

Kerjaan gue sih sebagai Support IT dan Analys System di sini, You Know pusing kalau cuma mikir sesuatu yang gak nampak 😯😯 #kayakcewek hehehe, gue Team SIMS (Sistem Informasi dan Manajement Sekolah), masalah gaji? i have prinsip kalau masalah keuangan, untuk tidak mengedepankan nominal karena semakin banyak uang yang kita miliki akan semakin sulit hisab kita ketika di hari akhir. Oke masalah gaji? skip yang penting buat loe cukup kalau cuma urusin pacar atau satu istri. wkwkwkwk πŸ˜… dari sini banyak pengalaman di dunia kerja sebenarnya, yang harus aku bagikan kepada siswa - siswaku di sekolah, karena kadang teori disekolah banyak yang tidak sesuai dilapangan(dunia kerja).
Mulai besok Agustus ane masuk team Aplikasi Marketplace umroh, tunggu yah nanti gue bagi ceritanya, ini masih gue susun Analysisnya besok sabtu tanggal 20 July mau di laporkan ke kepala perusahaan. Perusahaan juga mau presentasi ke KEMENAG JAKARTA.


Sedangkan dirumah sendiri gue punya konveksi, skip untuk konveksi ini karena banyak ngelunya #pusing😣😣😣 gue udah cerita di lain postingan, gue sendiri harus membagikan ilmu - ilmu ini karena gue kira ilmu ini masih jarang yang punya di dunia kerja.

Nominal uangmu jangan kau pikirkan, pengalaman dan kemampuanmu lah yang kau perhatikan, aku kini lebih fokus untuk berbagi ilmu ini, terutama Digital Marketing, sudah ada 3 orang yang kini menimba ilmu yang pertama Mustopa, temen ane ini kerja di "Tama Budidaya Lobster" doi bagian pemasaran. Sedangakan yang satunya siswa SMA di kota ane, produknya sih belum jelas da langkahnya juga belum terlihat, tapi gua tetep support.


Yang satunya gue share ke Marketing di sebuah perusahaan properti perumahaan rakyat, cuma gue gak pernah share secara teknis dan detail tentang dunia digital marketing. Hmm gue sempat berpesan kepada teman - teman gue  di startup Imersa (Internet Marketing Solution Indo) untuk tak selalu menyerah karena di dunia digital marketing ini setidaknya butuh 1 tahun hanyak untuk siap berlayar, untuk selalu berganti - ganti management system sesuai kebutuhan.

Ouh ya ane sampe lupa, gua juga salah satu agency di Imersa untuk mencari orang - orang baru yang bekerja dengan kami.

Gimana??, loe boleh punya kemampuan sebanyak mungkin, jangan lupa loe bagi dengan mereka - mereka yang sekiranya membutuhkan, masalah nominal materi?, biarkan tuhan yang menentukan agar gak serakah...😞
Rabu, 17 Juli 2019

Merayakan Kehilangan #sadStory

Play dulu biar makin Syahdu 😌😞
Hmm, Udah lama banget gak posting. Terakhir postingan "Asa di Prostitusi bagian 3", yah emang di masa  Quarter Life Crisis emang banyak banget yang terpikirkan, bikin hati pikiran dan tenaga terkuras #sedihNyesek. 😣😣

Kali ini sedikit cerita tentang kehidupan akhir - akhir ini, wkwkwkw about asmara. Maklum udah lama banget yak, ane gak pernah berasmara #ngakak,πŸ˜‚πŸ˜‚ir gue sendiri udah sengaja sendiri mulai lulus sekolah SMA sampe umur 25 sekrang, dulu sih pernah pacaran tapi ada sahabat gue yang nasehatin, akhirnya gue putusin cewek gue karena tau bukan hubungan yang sehat.

Empat bulan atau lima bulan dari cerita ini gue tulis, gue deket sama cewek, You know?, sebenarnya sih udah lama kenal, cuma gak sedeket ini, Seiring berjalannya waktu dan kecocokan yang ada, memutuskan untuk melakukan prosedural menikah sesuai anjuran. Hehehe ini cewek kedua yang mau ngajak Gue nikah, cewek sebelumnya gue #goblokbanget pokoknya (hahahhah) ya gua gak mungkin deh karena gue sadar diri gue rakyat jelata wkwkwkwkw.

Oke back to story, gue sama doi yang ngajak nikah ini atur strategi, gue siapkan mental dan persiapan. mulai dari keluarga gue dll, hmm gue juga udah minta nasehat ke sahabat gue yang kebetulan gue manfaatin penglamannya dan ilmunya, karena gue sendiri gak penglaman dan ilmu kurang banyak. #nangis😭😭

Semua berjalan sesuai rencana hingga gue sama doi sepakat untuk bilang ke pengurus, jebret semua informasi masuk kepengurus, si doi bilang, langsung aja sebut nama gpp,  nah sedangkan nasehat temen gua, untuk merahasiakan dulu namanya. Tapi kenyataan dilapangan gua di pojokin untuk menyebut namanya, hampir 3 kali loh gue di tanya, hmm di tengah sepinya suasana, gue bilang sama hati kecil ane? "Waduh gak bisa nih kabur langsung?", ya udah akhirnya sesuai rencana doi "bilang nama" dan akhirnya lah terlontar nama, Bommmmm!!!!!!, gue sedikit menyesal karena gak sesaui rencana.

Akhirnya pihak kelurga doi di hubungi pengurus , dan sesuai rencana gue sama Doi mau menyakinkan keluarganya Doi, Kenyatan bertakata lain ternyata, kemungkinan terburuk yang kita pikirkan terjadi.

Malam setelah gue ada acara di sebuah rumah ibadah, gue mulai merasakannya, teman gue mulai dingin, eh btw temen gue ini kakaknya hehehe, Mulai dingin sikapnya ama gue, gak sehangat seperti  biasanya. 

setelah beberapa saat gue di hub. ama Doi, jeng - jeng.πŸ˜– doi bilang sembab matanya, dan itu pertanda bukan baik, tak ada izin dari keluarga untuk melanjutkan ke jengang selanjutnya. #sedihsih tapi gue sok tegar aja.

sehari dua hari, setelah itu mulai mendinginkan hati masing - masing, eh btw sebelum postingan ini gue tulis, pengurus belum bilang, bisa diteruskan atau tidak hub. ini, tapi karena gue udah punya bocorannya #YaSudahlahπŸ˜₯hehehe.

Sekarang gue sudah mulai dingin, bahkan keluarganya mungkin ada rasa canggung terhadap cerita ini, anjir benerkan. Pagi dari kepagi gue tetep berkumpul dengan keluraganya. TApi suasana mulai sedikit dingin dan canggung. #nyesek😞ih selain gak dapat izin gue kehilangan sahabat, eh bukan kehilangan sahabat sih. Kehilangan sesuatu dari mereka You Know, I can't explain in my Story. 😞

Semoga jadi pembelajaran, about story ini, niat baik kami, gue bilang masih belum dapat izin keluarga doi, gue bilang masih belum dapat izin, karena pengurus belum mengambil keputusan, dan gue bisa bilang gak dapat izin karena Doi sendiri yang bilang.

Hmm aku dan doi sekarang lagi merayakan kesedihan, mungkin juga merayakan kehilangan juga sih. dari sini untuk terus berbuat lebih baik. tak lupa untuk berdoa yang terbaik, karena dengan Doa kepada Tuhan, pasrah dari semua urusan. Jangan menyalahkan orang lain dalam masalahmu, maybe itu karena kesalahanmu, tetep koreksi diri dan menerima kekuranganmu. 😁

And please, jangan pernah melakukan pelanggaran syariat dalam hubunganmu, jika gak mau kayak film "Dua garis biru" 😣

Ad hikmah yang harus dipetik dalam setiap cerita. maybe aku terlalu gegabah dan gak sabar, dalam setiap rencana aku sama doi.

Keep strong guy, semangat 😘😘

Hal yang Dialami di Quarter Life Crisis

Sebelum menulis artikel ini ane, menghela nafas panjang banget, yah panjang banget. Karena beberapa peristiwa ini mungkin semua orang akan melaluinya, yah kalau bisa di skiplah, Quarter Life Crisis, adalah problematika seorang pemuda di usia sekitaran 25 tahun. Banyak permasalahan mulai datang, mulai dari karir, asmara, pendidikan, bahkan mungkin rumah tangga.

Yah ane gak mau jauh - jauh bahas teori Quarter Life Crisis, ane sendiri sebenarnya mau share pengalaman aja dan beberapa tindakan yang ane ambil.

Tak ada waktu luang untuk berleha - leha seriring berjalanya waktu, Nah berikut ini Quarter Life Crisis yang mulai gua alami.


 1. Mulai bingung untuk melanjutkan karir ataupun pendidikan.
Semenjak lulus kuliah dulu bulan April, wisuda 92 Unesa di GOR Bima Surabaya, ane mulai goyah dengan beberapa pilihan karena tahu sendiri, setelah lulus apa yang harus dilakukan?. Ane sendiri sekarang bekerja di sebagai tenaga pendidik di SMKN 1 Kertosono. Mungkin disini ane harus mencari pengalaman yah atau gimana, sementara itu berusaha menikmati kehidupan disini.

2. Mulai tak ada waktu menjelajah Alam dan Semesta.
Lebay banget yah menjelajah alam semesta wkwkwkwkw, tapi emang ia kenyataan demikian, untuk naik gunung aja sekarang sudah sangat sulit mencari waktu luang, beberapa target gunung di Jawa Timur terlewatkan begitu saja di tahun 2018, tak ada kwalitas perjalanan selama perjalanan yang dipaksakan. Ambisi - ambisi perjalanan yang lebih menantang di alam akan sulit dilakukan ketika sudah menikah, karena nantinya bakalan tersita oleh keluarga. Faktor ke khawitaran keluarga juga semakin besar. dari hal tersebut ane mikir beberapa perjalanan yang menantang harus dilakukan sebelum menikah.

3. Kembali ke Keluarga.
Mungkin  seharusnya, sebagai anak yang harus berbalas budi kepada orang tua, setidaknya setelah bekerja dapat membantu kedua orang tua, entah itu bagaimana caranya. Ini juga menjadi dilema. Walaupun emang ane sendiri sudah mandiri sejak SMA. Namun memasuki Quarter Life Crisis ini level sudah semakin bertambah, tak cukup diri ini mandiri, tuntutan membantu keluargapun lebih. Masalah keuangan sangat riskan. Dari masalah ini, akhirnya beberapa bisnis yang ane jalankan harus gua oper sendiri, karena sempat beberapa bulan sharings cost dengan teman ane, harus diketahui karena sharing cost hasil harus dibagi sama rata, yah ane sendiri gak masalah tapi tuntutan untuk membantu keluraga makin besar, apalagi adik sekarang sudah mulai kuliah di Jakarta. Ane sendiri harus punya keuangan sendiri, bantu bulanan, bahkan uang saku. Adik kedua juga mau ke Magelang otomatis menambah pengeluaran, walaupun emang itu kewajiban orag tua, setidaknya ane sendiri bisa sebagai pertolonagn pertama ketika dibutuhkan.

4. Wanita Pendampingmu Minta Segera di Halalkan
Nah ini buat loh yang banyak - banyakin waktu buat pacaran, wkwkwkwkwkwkwkwkwkw, si orang tua cewek pasti banyak nanya kapan si doi dilamar. Ouh ia dulu gue emang pernah pacaran sih sekitar 4 tahunan, karena dinasehatin teman ane kalau bangun keluarga lewat pacaran sama aja bom bunuh diri. Maksiat pasti, rezkipun tak barokah. Benar juga ane itu terbukti ketika ane udah mulai tak melakukan hal khalwat rizkipun alhamdulillah. Apalagi memasuki Quarter Life Crisis ini. Godaan wanita makin tinggi, yah wanita mana yang gak baper ketika gua ajak naik gunung, hehehehehe bangsatkan gue, tapi gak gua pacarin. Apalagi kalau ada cewek yang udah punya pacar tapi masih sering kode - kode njir. Ane sendiri berusaha menjaga diri entah gimanapun. tapi di point ini Alhamdulillah gak semua orang ada beberapa orang pengecualian termasuk ane.

5. Membuat Skala Prioritas Lingkungan dan Merekonstruksi Lingkungan.
Di point ini emang sebenarnya berat sih ane tulis, tapi kata bang Dady Corbuzer di akun Youtubenya "kalau loe gak berani?, ngapain bersuara?". Di point ini loe harus bisa membuat skala prioritas dalam kehidupanlo, untuk apa loe hidup, untuk siapa loe hidup, dan mengapa loe hidup, apa yang loe inginkan dari hidup, bagaimana loe mau menjalani kehidupan lo harus pikirkan. Sedangkan merekonstruksi lingkungan loe harus bisa pandai - pandai memilih teman, loe pengen ahli komputer yah loe kumpul dengan orang yang pinter komputer, loe pengen bisa kuliner loe yah kumpul sama orang ahli kuliner, loe pengen tahu agama berkumpul dengan mereka yang banyak tahu tentang agama. Loe gak boleh egois terhadap diri loe sendiri. Loe boleh bereteman siapa saja, tapi ingat merekonstruksi lingkungan kehidupan loe.

6. Tuntutan pekerjaan semakin besar seiring berjalannya waktu.
Kalau ini sudah jelas, tanpa panjang lebar pekerjaan menyita sebagian besar waktu kita, tapi tergantung lo ngatur dan menikmatinya. Ane sendiri harus membagi anatar bisnis dan mendidik di sekolah, capek banget beneran capek banget. Ane sendiri selalu tidur pagi beberapa bulan ini karena kesibukkan bisnis dan sekolah. bahkan nulis artikel ini ane lakukan ketika pukul 2 pagi. :)

Itulah beberapa hal yang akan loe alami di usia 25an (Quarter Life Crisis ). Meski kedengarannya agak berat untuk dijalani, tapi ketahuilah bahwa semua itu nggak perlu berlebihan untuk dikhawatirkan, sebab insyaallah segalanya akan dimudahkan jika kamu menjalaninya dengan sepenuh hati dan keikhlasan. Kamu nggak perlu takut, semuanya hanya sebuah fase dalam kehidupan.

Semoga menginspirasi kamu bagi yang membaca :)
Kamis, 03 Januari 2019

Hadiah dari Prostitusi di Perantauan.

Djiancok, Biadab, MuBang, Anjing, gua mau nulis semua kalimat sarkas entah loh seneng apa gak, terserah gua gak peduli Anjing..!!!!.

Huft, semua memang ada masanya, udah yah sorry gua agak kesel banget beberapa bulan ini, menjalani Quarter Life Problem. Semua menumpuk. Mulai dari kehidupan pribadi, pendidikan yang gak bisa lanjut, Bisnis yang harus tersendat, wtf gua nambah lingkungan baru yang kali ini ketemu berbagai jenis sifat. Yah gua aja kumpul sama yang seiman masih ada masalah. Apalagi yang tak seiman.

Huft kadang gua capek aja, Udah tiga bulan ini terhitung sebulan sebelum keluar dari kontrakan. Pasca keluarpun masih bertambah, perubahan sikap - sikap sekitar. oke gua cuek aja toh saya yakin mereka akan selalu positive thinking.

Nah lingkungan baru ini, adalah sebuah instansi pendidikan di dekat rumah gua, Kalaupun gua gak punya tanggung jawab terhadap beasiswa yang gua makan pas kuliah, pasti gua ngelanjutin bisnis sembari yah maybe kuliah lagi.  Tapi apalah, Ok gua skip untuk "rasan - rasan" (Membicarakan orang lain) karena gua sendiri males dan bukan type gua banget membicarakan orang lain.

Oke sekarang yang mau gua mau ceritakan adalah beberapa siswa didik gua, Ajir gua ketemu lagi beberapa siswa yang degradasi Moral. Njir jadi wanita murahan WTF. entah gua gak tau, jual badan atau karena senang - senang?. Haduh niatan gua mau berhenti dari konseling prostitusi koq mulai ilang lagi *NyesekNjir

Ouh ia gua dulu selama jadi mahasiswa di Surabaya ikut membantu temen gua buat project buka  profile Dolly, ntah tapi kemana temen gua sekarang itu kadang gue juga sedih (Semoga aku dan dia dipertemukan di jamuan kopi yang hangat). selama itulah ane mencari informasi tentang Dolly dan segala jaringanya tanpa sepengetahuan teman gua. Gua mulai ada obsesis kala itu untuk menuliskan secara detail rundown buku yang entah siapa yang membuatnya.

Hingga seketika ane masuk satu Jaringan prostusi, dimana ada beberapa teman - teman gue ternyata disitu, bla bla bla. Yang intinya di jaringan itu sebagai penampungan beberapa "Korban" pergaulan bebas dan pintu ke dunia prostitusi. Oke berhenti dari sini.

Balik ke cerita awal, ane kerja sabagi tenaga pendidik. Gua ketemu objek lagi, Njir siswa gua sekarang ada beberapa yang udah mulai menampakkan kehidupannya. Kadang gua tertarik sama kehidupan mereka sebagai objek buku ane, entah siswa ane ini masuk jaringan atau masih tahap awal yang masih sporadis, karena dulu ane pernah penelitian apabila objek tidak mengenakan tarif penelitian tidak bisa dilajutkan karena ada batasan masalah mengenai prostitusi.

Lah kalau ini siswa ane belum jelas, kesulitan makin tinggi pula karena status ane tenaga pendidik, susah banget membaur dengan lingkungan, walaupun postur tubuh gue sama wajah masih childist tapi itu semua susah banget. Tak seperti dulu kuliah celana copang camping bekas robekan gua mudahnya membaur dengan lingkungan di Putat Jaya. Ditambah lagi Image gua ngikut ormas keagamaan di Kertosono, lo taukan Ormas agama apa yang pusatnya di Kertosono?, Gua juga harus jaga sikap untuk tidak terlalu berlebihan dalam mencari informasi.

Sebenernya gua gak mau ngurusin hidup pribadi orang sih, Yang gua urus sifat jamak yang terjadi dikalangan pelajar. Gua harus ngambil benang merah kenapa degradasi moral terjadi. So guys buku yang pengen buat nanti bermanfaat terutama untuk orang tua, bagaiaman anak - anak terjerumus kedalam degradasi moral.

#IamSad
Kamis, 13 Desember 2018

Asa Dari Prostitusi #2

Di bedeng kostku yang berantakan dengan literasi untuk disertasiku, aku mulai ingin istirahat kala melihat mereka Ihza dan Bara berjuang menyambung hidup, Aku ingin membantu mereka setidaknya ada yang aku perbuat secara nyata untuk mereka. Aku dulu Aktifis mahasiswa yang hanya menyuarakan tuntuntan entah demo, atau sebar Flyer itupun ada maksud dan tujuan tertentu agar aku makin banyak memiliki masa yang akan menyongkong suara kandidat yang ditetapkan oleh Organisasiku naik ke pemilu entah itu BEM Fakultas ataupun BEM Universitas.

Kadang aku di undang oleh beberapa legislatif untuk membantu mereka Reses, mengumpulkan laporan, laporan, laporan agar dapat digunakan membangun daerah legislatif tersebut. Mulia bukan?, "Anjing" gua bilang itu semua pencitraan semata, mereka resespun karena formalitas, Kadangpun programnya seadanya. Aku beranjak memebersihkan Kamar dan berangkat ke Pasar untuk membeli sayur mayur, Setelah aku pulang langsung ke dapur. Gak biasanya gua kedapur, seakan aku ingin memasak makanan favoritku ketika mendaki gunung. Krengsengan daging yang dimasak setengah basah ditaburi dengan bawang goreng dan lada hitam pedas manis gurih, Yah makanan inilah yang selalu mengingatkan aku akan kehidupan berat di gunung, Selalu aku ingat bagaimana capeknya digunung.

Makanan sudah siap aku istirahat dan mandi, Jam menunjukkan pukul dua siang. Aku bergegas ketempat mereka sengaja aku pakai sepeda bututku yang sudah berbulan - bulan tak pernah terpakai, sepeda ini adalah pemberian dari kakak angkatanku yang kini sudah kembali ke kampung halaman.

Bener fellingku jam setengah tiga aku nyampe dan mereka berdua sudah dirumah, aku bawakan nasi dan sayur favoritku. Aku sengaja bilang mereka agar hari ini tak bekerja aku ingin setidaknya meringankan beban mereka.

Aku ajak mereka ke taman dekat rumah, Maklum tempat prostitusi seperti ini banyak sekali taman, aku putuskan ke sebuah taman dekat pertigaa. Bercengkrama sembari berbaur dengan masyarakat, aku ingin tahu apa yang mereka butuhkan, "Aish" aku sok sok'an banget. Aku sendiri belum kerja masih mengandalkan uang beasiswa dan uang hasil tabungan pekerjaanku yang aku tinggalkan.

"Mas ini pesenannya kopi, dan es teh" sambil memberikan baki kepada kami yang lesehan. "Loh ini kan anaknya Mbak Widia", aku tertegun sejenak siapa itu Ibu Widia?. Toh Izka dan Bara diam saja. Oke sengaja aku abaikan ibu - ibu ini, karena aku melihat Ihza dan Bara tak nyaman ketika nama tersebut di sebutkan.

Waktu menunjukkan pukul enam sore, matahari mulai tenggelam suasana mulai di dekap dingin. Aku hanya ngobrol agar mereka terhibur dengan adanya kehadiranku.
Rabu, 24 Oktober 2018
Tag :

Asa Dari Prostitusi - Cerpen


Aku adalah manusia yang telah di beri nikmat tiada tara oleh Tuhan, hingga aku bisa menikmati perjalanan kehidupanku semanis ini. Tak lepas dari perjuangan Ibuku tak kala sang subuh menyinsing bergerak mendekap pagi selalu bersujud dan berdoa kepada sang Maha Esa untuk kemudahan kesuksesanku.

Kini kehidupanku menjalani Quarter Life Problem, di usia 23 aku akan melanjutkan kehidupanku di sebuah kota besar, kota yang terkenal penuh harap bagi mereka yang akan merantau kesana. Berharap uang untuk menghidupi.

DUA TAHUN BERJALAN


Seperti layaknya mahasiswa kini aku sudah beranjak di semester terakhir, hampir dua tahun kehidupanku aku habiskan berkumpul dengan literasi dan penelitian. Maklum aku mahasiswa yang punya ambisi untuk menjadi terbaik menurutku, selain itu aku dituntun untuk mendapatkan nominal besar pada kolom ijasahku nanti karena aku kuliah di biayai oleh Negara, wajar saja.

Aku mulai bimbang diakhir kuliahku kali ini, kalau dulu setalah SMA aku bisa beralasan untuk melanjutkan ke kuliah Sarjana, Setelah lulus sarjanapun aku masih bisa beralasan untuk melajutkan ke jenjang pasca sarjana. Itu semua aku lakukan untuk dapat beralasan tak bekerja, karena aku tahu kejamnya dunia kerja, sikap munafik dan penuh kepentingan, individual dan rasa saling benci sangat kental dalam dunia kerja. Aku banyak tahu setelah mecoba – coba pekerjaan semasa jadi mahasiswa S1 dulu, maklum aku ini eks aktifis kampus sehingga mudah sekali mencari pekerjaan short time.

Di tengah kekalutan dan kebimbanganku, aku mencoba keluar dari kost, meninggalkan sementara jurnal – jurnal dan kertas penuh bercak tinta printer. Aku jinjing handuk yang mengering dari kasur yang lusuh, berangkat mandi di bilik bedeng kost. Ku gunakan pakaian compang – camping kesayanganku, bukan karena aku tak punya pakaian yang lebih rapi, tapi pakaian itu adalah pemberian Ibuku yang diberikan 5 tahun silam ketika aku mengawali kisah perantauanku di kota ini, hasil jerih payah orang tuaku. 

Aku hanya ada uang recehan, aku bawa dua kartu ATM, “Mungkin nanti berguna kalau mau beli sesuatu dijalan”. Kamar kost aku kunci, kupakai sneker dengan kaos kaki rombeng yang gua idolakan karena merk’nya Converse. Huft gua pikir ini “gue banget”, Maklum di kelas Pascasarjana harus menggunakan pakaian serba rapi, sedikit tertekan.

Aku sengaja berjalan kaki, membebaskan arah langkah, semacam mengulangi peristiwa di gunung untuk terus berjalan menentukan titik abstrak sambil memandangi kejadian di sekitaran jalan. Titik kaki mulai terhenti disebuah taman dekat prostitusi yang kini tutup oleh walikota setempat. Aku pesan kopi sachet Nescafe original favoritku, dari seorang pedagang tua yang mulai mengantuk karena sudah menekati dini hari kala itu, aku seduh sambil melihat banyak muda mudi kota bercumbu.

Aku pasang headset untuk mendegarkan lagu – lagu, sambil berharap datang isnpirasi dari kekalutanku ini, hamper satu jam lebih aku mendengarkan lagu – lagu kesayangan, “Sudah pulang saja” sambil dingin hati ini masih tak ada jawaban. Kuhabiskan kopi dan kusisihkan gelas, dan langsung seketika itu aku disapa bocah laki - laki manis seusia adikku yang baru duduk di bangku Sekolah Dasar. "Mas boleh saya ambil gelasnya?" sambil menunjuk jari bekas gelas kopiku dengan tangan kecilnya. "Ouh ia dek, Kenapa koq masih main toh udah malem, nanti apa gak dimarahi Ibu?", sapa balasku manis, diam seribu bahasa khas bocah. Lalu aku inisiatif untuk mengantarkan pulang toh kaki ini aku bebaskan berjalan sambil mencari kekalutanku malam ini. Tak lupa aku belikan nasi goreng disepanjang perjalanan kami pulang.

Glek, sambil menelan ludah, aku memasuki kawasan bekas prostitusi yang kini sepi senyap karena ditutup oleh Walikota setempat. Tak ada rasa  takut untuk usia anak sekitar 7 tahunanlah, aku sendiri tidak tau pastinya. di depan rumah sederhana hanya ada satu lampu yang menyala tanganku di tarik untuk berhenti dan "ayo mas masuk, temeni kami", langsung terbesit di pikriku mungkin kami yang di maksud adalah orang tuanya. Kami masuk rumah dan ada seorang bocah laki - laki ternyata dia adalah kakaknya.

"Mas aku gowo sego goreng di key mas iki, ketoe enak...!!!!", berubah ekspresis seketika didepan kakanknya yang kala itu belajar dengan sumber belajar yang seadanya.

Kalau tahu gini tak belikan tiga bungkus, gumamku dalam hati. lalu nasi goreng itu kami makan bertiga, hingga sesaat Izka tertidur di ruang tengah karena capek berkeliling mencari sampah plastik. Akhirnya aku ngobrol dengan Bara nama kakak dari bocah yang aku temui di sebuah taman tadi.

Ngobrol banyak kami di selasar rumah, kucecar pertanyaan - pertanyaan seputar kehidupannya. Ternyata Izka dan Bara ini adalah anak yang ditelantarkan. Bapaknya meninggalkan mereka karena tak tahan dengan kelakuan ibundanya yang menjadi pekerja kelamin, sedangkan mereka ikut ibundanya . Dan semenjak di tutup tempat ini (tempat prostitusi ) lima tahun silam, ibunda mereka meninggalkan mereka hanya uang sekitar lima ratus ribu rupiah dan secarcik surat yang bertuliskan "Nak sing sabar ibu ketoe sesok gak moleh".

Tak ada petunjuk kemana kemana Ibunda pergi, tak ada yang peduli dengan mereka karena sudah tertanam pandangan buruk kepaada mereka karena sang Ibunda yang begitu kalut mencari kesenangan dan nominal uang. Semenjak di tinggal Bara, sang kakak harus menghidupi kebutuhannya dan adiknya yang sudah masuk kelas dus sekolah dasar. Setelah pulang sekolah Bara selalu menuju rumah langgananya untuk mencuci pakaian - pakaian, kadang tak lupa mensisakan sedikit detergen untuk mencuci baju mereka sendiri, Yah menjadi buruh cuci salah satu pekerjaan yang dilakukan Bara. Seakan tahu dengan keadaan keluarganya Izka kadang diam - dima mencari sampah - sampah plastik untuk membantu sang kakak. Kadang Bara melarangnya karena masih sangat belia.

Tapi apa yang mau bisa di perbuat Bara, karena himpitan kebutuhan dan urusan perut kadang Bara hanya bisa menjerit dalam hati melihat Izka keluar diam - diam turun kejalan mencari penghidupan. Itu yang membuat tekad dan motivasi Bara semakin tinggi untuk lulus SMP. Kini Bara mempersipakn Ujian Nasional untuk bulan depan, maklum Bara ini siswa kelas 3 SMP. Walaupun sekolah mereka gratis namun kebutuhan keseharian mereka harus mencari sendiri. Mereka tak mau mencari belas kasih, mereka mau keluar dari belenggu dunia jalanan, seakan mencari mata air dalam keringnya kehidupan.

Aku putuskan itu tinggal disini toh, mereka cuma berdua, kalaupun akau kembali ke kost paling ditemenin printerku yang penuh dengan belepot tinta sisa - sisa kekalutanku malam ini. Aku mulai penasaran bagaimana mereka hidup diatas beban tanpa kasih sayang orang tua.

Subuh menjelang, seperti anak pada umumnya dilakukan setelah bangun tidur, merapikan tempat tidur, sholat, tak lupa Bara belajar dan setelah itu mempersiapkan kebutuhan adiknya.

Tak ada sarapan, tak ada kasih sayang pagi dari Ibu, tak ada kasih sayang pagi dari Ayah. Akupun hanya bisa dingin melihat pilu mereka.

Mereka tinggal pergi akupun pergi.
(Halaman Selanjutnya)
Rabu, 03 Oktober 2018
Tag :
ilham abi manyu. Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © ilhamabi.com -